o2 handy verfolgen localizzare cellulare con pc como rastrear celular gps pelo pc smartphone tracker on Galaxy Note 9 service de localisation iphone 6s Plus

Umumnya menusia lebih mengharapkan kehadiran anak laki-laki dari pada anak perempuan. Disamping biaya nafkah lebih murah, perawatannya simple dan tidak begitu ribet, anak laki-laki juga berpeluang lebih besar untuk kedepannya membantu sang ayah mengais rizki.
Namun Islam memberikan motivasi sebaliknya dengan mengajak manusia untuk lebih berorientasi pada kebahagiaan akhirat. Bahwa anak perempuan selayaknya dimuliakan. Pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak perempuan akan menjadi tabungan baginya kelak di hari kiamat.
Terdapat beberapa catatan hadis yang menunjukkan keutamaan anak perempuan. Diantaranya,

Pertama, hadis dari A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,
Suatu hari, ada seorang ibu bersama dua putrinya menemuiku untuk meminta sesuatu. Namun aku tidak memiliki makanan apapun selain satu buah kurma. Akupun memberikan satu kurma itu ke sang ibu. Kemudian dia membagi dua kurma itu dan memberikannya kepada anak-anaknya, sementara dia tidak memakannya. Lalu dia keluar dan pergi.
Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan kejadian itu kepada beliau. Lalu beliau bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ البَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

Siapa yang diuji dengan kehadiran anak perempuan, maka anak itu akan menjadi tameng baginya di neraka. (HR. Ahmad 24055, Bukhari 1418, Turmudzi 1915).

Kedua, hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Siapa yang menanggung nafkah dua anak perempuan sampai baligh, maka pada hari kiamat, antara saya dan dia seperti ini. Beliau menggabungkan jari-jarinya. (Muslim 2631, dan Ibnu Abi Syaibah 25439).

Ketiga, dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.
(HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Keempat, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَالَ ابْنَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ بَنَاتٍ، أَوْ أُخْتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَ أَخَوَاتٍ، حَتَّى يَبِنَّ أَوْ يَمُوتَ عَنْهُنَّ، كُنْتُ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ ” وَأَشَارَ بِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

”Siapa yang menafkahi dua atau tiga anak perempuan atau saudara perempuan, hingga mereka menikah atau sampai dia mati, maka aku dan dia seperti dua jari ini.” Beliau berisyarat dengan dua jari: telunjuk dan jari tengah. (HR. Ahmad 12498 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kita sangat paham setiap aktivitas tidak lepas dari kegiatan komunikasi, di antara bentuk komunikasi yang sangat di gemari adalah mendongeng atau bercerita khususnya anak-anak usia dini. Dalam kegiatan tersebut tertanam nilai pesan dari setiap dongeng atau cerita yang di sampaikan. Bercerita atau mendongeng juga aktivitas pendidikan yang dilakukan oleh siapa saja dan dari bangsa serta agama mana saja. Maka nasib kondisi suatu bangsa sangat bergantung kepada cerita atau dongeng yang ada di bangsa tersebut. Menjadi perhatian bersama, istilah mendongeng ini sudah mengakar dan mendarah daging di setiap negara khususnya bangsa Indonesia. Namun sebenarnya istilah dongeng menurut kamus besar bahasa indonesia mengandung pengertian perkataan yang bukan-bukan atau tidak benar, cerita bohong dan omong kosong. Berarti ketika mendongeng dapat dikatakan kita telah menyampaikan kebohongan, terlebih yang di sampaikan dongeng-dongeng yang berbau khurafat dan tahayul. Bisa kita bayangkan dampak apa yang terjadi kepada anak-anak kita. Padahal berapa banyak dongeng-dongeng telah masuk tertanam dalam pikiran anak-anak kita saat ini, bahkan saat kita dulu, begitu tertanam dan membekas. Jadi sekarang istilah apa yang tepat untuk kegiatan yang sangat penting ini, sebelum mendapatkan istilah kata yang tepat dan benar, kita juga harus memahami sebagai pedoman. Ternyata istilah dongeng juga dalam terjemahan Al-Qur’an Bahasa Indonesia telah Allah sampaikan, seperti dalam Q.S. Al Furqon ayat 4-5 dan Q.S. An Nahl ayat 24-25 serta ayat Qur'an yang lain. Dari kesemua kata dongeng dalam terjemahan Al-Qur’an terlihat ungkapan yang mengatakan Qur’an itu adalah Dongengan belaka oleh orang-orang yang tidak beriman. Maka dari 2 (dua) alasan di atas khususnya Al-Qur’an penyusun mengajak untuk mengembalikan istilah tersebut menjadi cerita terlebih kisah. Metode kisah sangat banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dan juga Hadits. Bahkan Bila kita memahami hampir setiap hari, makna yang terkandung dalam Surat Al Fatihah, di ucapkan minimal 17 kali, Tunjukilah kami jalan yang lurus (6) , (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7). Dari ayat ini terdapat tokoh-tokoh orang-orang yang di beri nikmat (Tokoh Baik) dan Orang yang dimurkai dan sesat (Tokoh Buruk). Adanya Tokoh berarti ada kisah yang mengikutinya, belajar dan mengambil pelajaran dari Tokoh tersebut. Dan kisah-kisah terbaik, tentulah kisah-kisah yang ditulis oleh pencipta manusia itu sendiri, Allah SWT. Itulah kisah-kisah yang tertera dalam Al-Qur’an yang kebenarannya tidak sedikitpun menyisakan keraguan. Kak Ari PPMI

“ Sepasang suami istri tega menganiaya anak kandungnya sendiri bla bla bla “

Kalimat itu muncul dari seorang pewarta berita yag menghiasai media massa kita. Banyak tanggapan yang muncul karena berita itu. Beberapa orang ada yang menduga pasti karena sang ayah tukang pukul, pasti sang ayah suka marah-marah, ada pula yang menduga penyebab sang ayah memukul anak pasti kerena anak itu nakal, anak itu kurang ajar dan banyak dugaan-dugaan yang bermunculan.

Hati kita terkadang tidak sanggup untuk mendengarkan berita di atas. Kenapa?  Kok Bisa? sampai terjadi hal yang sangat ironis tersebut terjadi di lingkungan kita, di negeri yang kaya akan keluhuran budi.

Anak merupakan buah hati yang selalu didambakan oleh setiap pasangan suami istri . bila anak belum hadir rasa cemas terkadang menyelimuti hati yang sedang gundah gulana. Kemudian segala upaya ditempuh untuk mendapatkan momongan dengan berbagai cara, seperti berhubungan disaat masa sel telur subur, makan buah dan sayuran lebih banyak, hingga pengobatan yang mengluarkan uang yang tidak sedikit. Itu semua dilakukan karena kerinduan untuk mempunyai buah hati.

Ketika istri terlambat menstruasi, suami merasakan detak jantungnya begitu terasa cepat bergerak berlari menuju kegembiraan berliput gelisah. Di awal kehamilan pasangan suami istri pasti akan sangat berhati-hati menjaga si jabang bayi yang bermain di dalam perut sang ibu. Setiap waktu sang ibu menajak bicara sang jabang bayi dengan lembut, sang ayahpun tak ketinggalan untuk selalu memberikan perhatiannya.

Sang bayi lahir dengan penuh perjuangan, dari sisi ibu yang melalui proses persalinan yang sakit tapi tetap semangat menyambut sang bayi, sang ayah meskipun tidak merasakan sakitnya persalinan, ayah juga menunggu menemani dengan perasaan yang berkecamuk tidak karuan. Semua proses itu akan segera menyatu menjadi perasaan bahagia manakala sang bayi sudah keluar dari perut ibunya.

Bahagia yang tak terkira manakala anak hadir diantara kita. Segala usaha akan di lakukan oleh pasangan orangtua untuk membahagiakan anak-nak mereka. Dari usrusan makanan, pakaian, pendidikan, tempat tinggal yang pasti dengan segala usaha akan di tempuh. Tentunya orang tua mempunyai harrapan kepada anak-anak yang mereka besarkan dengan keringat yang bercucuran. Ingin sekali melihat mereka tumbuh menjadi anak-anka yang bahagia sukses dunia dan juga di akherat kelak.

Bagaimana bila anak tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan orang tua? Tentu orang tua akan akan sedih, kecewa bahkan benci. Karena anak yang diharapkan tidak sesuai dengan harapan. Sekali-kali jangan salahkan mereka, bila mereka tidak seperti apa yang orang tua harapkan. Bisa saja semua itu di karenakan kesalahan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka.

Peranan orang tua sangatlah dibutuhkan di fase usia pertumbuhan mereka. Fase pertama usia anak-anak, mereka sangat membutuhkan kasih sayang, orang tuapun harus sabar dalam memberikan kasih sayang itu, jikalau orang tua ingin lolos dalam mendidik di fase ini.

Berlanjut di fase kedua usia remaja, mereka membutuhkan arahan dari orang tua untuk melangkah ke utara atau ke selatan, ke barat atau ke timur. Di pastikan oran tua harus lebih jeli dan teliti dalam membimbing dan mengarahkan mereka tentu tetap penuh kesabaran. Di usia remaja sudah banyak ragam pengaruh baik dari lingkuangan, sekolah maupun pergaulan mereka. Bila mana orang tua bisa lolos dalam membimbing dan membina mereka di fase remaja, maka hasil yang di dapat akan mudah untuk mendekatkan mereka pada harapan orang tua menjadi anak yang sholih dunia dan akherat tentunya.

Karena di fase ketiga usia dewasa, mereka sudah bisa menentukan pilihan hidup, karena landasan yang bagus tentunya pilihan  mereka juga akan bagus pula.

Semua tugas itu tidaklah mudah dan memang butuh pengorbanan yang tiada terhitung. Tapi semua itu memang sudah menjadi kewajiban orang tua, untuk menjadikan mereka ahli surga bukan ahli neraka.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)

So buat orang tua sudahkah kita membimbing dan mengarahkan anak-anak kita untuk berjalan bersama menapaki jalan menuju surga? Ataukah kita masih saja memberikan keraguan jalan surga pada anak kita?

 

Kak Amirudin Juru Kisah PPMI Klaten

Kenapa Nabi Yusuf as. bisa menahan gejolak nafsunya di saat digoda oleh seorang isteri raja yang cantik jelita? Adalah kuasa Allah yang menampakkan wajah ayah beliau (Nabi Ya'qub as.) di dinding. Ketika nampak bayangan wajah ayah beliau, Nabi Yusuf langsung terhenyak. Tergambar wajah sang ayah yang sedang menggigit kedua jarinya (tanda sangat marah) sambil berkata: " Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Khalilur Rahman (Kekasih Allah yang Maha Rahman), namamu tercatat di antara para Nabi, kenapa kamu sekarang mau melakukan perbuatan orang-orang bodoh?".

Ya’qub sebagai seorang ayah begitu dekat dengan anaknya. Di saat situasi "krisis" ia menjadi pengingat bagi sang anak untuk menjaga kesucian dan kehormatannya. Ya’qub telah menjadi pahlawan yang menyelamatkan kesucian anaknya. Nasehat yang muncul begitu berbekas hingga terpancar di depan Yusuf dengan jelas wajah ayahnya. Padahal sang ayah terpisah jauh darinya. Yusuf ada di Mesir, sementara ayahnya di negeri syam.

Hal ini berbeda dengan kondisi anak-anak saat ini. Dimana nasehat ayah dianggap angin lalu. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Bahkan yang lebih ekstrim tak dibiarkannya nasehat itu masuk ke dalam kuping mereka, khawatir ada yang nyangkut katanya. Hal ini terjadi karena ikatan batin antara ayah dan anak rusak. ayah tak mampu mengikat hati anak, sehingga segala nasehatnya diabaikan. Bahkan cenderung sengaja dilanggar.

Maka, kita belajar hal penting dari kisah Yusuf di atas. Betapa kedekatan antara ayah dan anak di masa kecil mampu menyelamatkan sang anak di tengah situasi "krisis". Bukan nafsunya yang diikuti. Ataupun budaya serta pergaulan rusak yang jadi rujukan. Namun nasehat indah dari ayah yang jadi pegangan. Inilah kenapa ayah menjadi pahlawan di saat anak membutuhkan. Meski fisiknya tak hadir, namun kata-kata yang berbekas dari lisannya mampu menyelamatkan sang buah hati saat diterpa keguncangan.

Penerapannya dimulai dari usia dini. ayah wajahnya harus banyak discan oleh anak. Paling kuat dalam memori anak. Caranya dgn sering beradu muka dgn muka atau hidung dgn hidung seraya membuat anak tertawa. Hal ini kerap dilakukan Rasulullah SAW kepada cucunya Umamah dan juga Hasan dan Husein.

Advertising

Sidebar 1